Badai Geopolitik Menghantam Wall Street: Minyak Bumi Melonjak, Pertaruhan Nilai Bergeser

Pasar global bergantung di ujung tanduk di tengah-tengah ketegangan yang berkembang antara AS dan Iran. Hal ini menjadi penggerak yang kuat untuk volatilitas, mendorong harga energi dan emas serta memberikan tekanan terhadap aset-aset berisiko. Kejutan pasokan pada wilayah tersebut dapat menyebabkan tren naik yang lebih lama pada harga minyak bumi.
AS telah meluncurkan operasi militer terkoordinasi melawan Iran dan membunuh Pemimpin Agung Iran, yang secara dramatis meningkatkan pertaruhan di wilayah yang volatil. Iran melawan balik dan memblokade Selat Hormuz, yang menimbulkan risiko terhadap rantai pasokan. OPEC+ mengonfirmasi akan meningkatkan produksinya mulai dari April. Bagaimanapun, serangan harga yang berkelanjutan masih berlangsung.
Data manufaktur AS lebih baik daripada ekspektasi di hari Senin. Indeks ini mencapai 52,4 di bulan Februari, sementara pasar memperkirakan PMI ISM manufaktur untuk mencemplung ke 51,7. Indeks manufaktur masih bertahan dalam zona ekspansif sebagaimana masih bertengger di atas 50.
The Fed berfokus pada data inflasi. Tekanan inflasi terbangun, yang mencegah FOMC untuk memangkas suku bunga dalam pertemuan yang akan datang. Selain itu, beberapa anggota The Fed menyatakan bahwa mereka akan memilih untuk menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi masih bertahan. Di seberang Atlantik, ECB juga memantau inflasi. Data CPI di Eurozone mencapai 2,4% YoY, yang juga mencegah Bank Sentral Eropa – ECB untuk beralih ke siklus lain atau penurunan suku bunga. Menurut Presiden ECB Lagarde, bank sentral ini akan bertahan dengan pendekatan wait-and-see.
Data pasar tenaga kerja AS akan menjadi fokus minggu ini. Menurut berbagai perkiraan, tingkat pengangguran di AS diperkirakan akan bertahan pada 4,3%, sementara tingkat lapangan kerja non-farm dapat menurun menjadi 58 ribu dari 130 ribu. Angka-angka pasar tenaga kerja yang lemah dapat memberikan tekanan terhadap Dolar AS, namun mata uang ini cenderung akan didukung oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Contents
- 1 EUR/USD: Risiko Geopolitik Membebani Euro
- 2 GBP/USD: Ekspektasi Dovish BoE dan Terpaan Angin Geopolitik Membebani Sterling
- 3 Trading Badai Geopolitik
- 4 Minyak Mentah WTI: Penutupan Selat Hormuz Menyalakan Ketakutan Pasokan, OPEC+ Menambahkan Kelegaan Moderat
- 5 Emas (XAU/USD): Permintaan Safe-Haven vs Kekuatan Dolar Menciptakan Tekanan Dua Arah
EUR/USD: Risiko Geopolitik Membebani Euro

Pasangan mata uang ini masih bertahan di bawah tekanan di tengah-tengah eskalasi konflik AS-Iran, yang menyalakan permintaan safe-haven dan mendukung Dolar AS. Sementara ECB masih defensif, geopolitik bermain peran penting minggu ini sebagaimana para trader menilai skenario negatif dan konsekuensinya. Data inflasi terkini di Eurozone memberikan cukup dukungan terhadap mata uang Eropa ini, namun tidak cukup untuk menggusur aksi panik jual besar-besaran.
Dari pandangan analisis teknikal, pasangan mata uang ini diperdagangkan di bawah pita bawah Bollinger Band, menunjukkan pergerakan turun yang kuat yang sedang terjadi. Para trader bisa bertransaksi jual dari 1,1580, menargetkan 1,1500 dan 1,1450. Ke arah naik, para pembeli bisa masuk dari 1,1610 menargetkan 1,1650 dan 1,1670.
GBP/USD: Ekspektasi Dovish BoE dan Terpaan Angin Geopolitik Membebani Sterling

Pound di bawah tekanan ganda yang datang dari geopolitik dan data PDB yang lemah. Ekspektasi pasar untuk pelunakan Bank Sentral Inggris – BoE memberikan sinyal pendirian dovish sebagaimana setelah data PDB yang negatif, pengangguran di negara ini meningkat menjadi 5,2%. Inflasi masih lengket di 3,1%, yang juga memberikan cukup permasalahan terhadap Bank Sentral Inggris, yang tidak bisa bertindak cepat untuk menstimulasi pertumbuhan perekonomian. Kurangnya rilis perekonomian dari Inggris memberikan semua fokus pada situasi geopolitik di Timur Tengah.
Dari sisi pandang analisis teknikal, Pound Inggris berdiri dekat dengan pita bawah indikator Bollinger Band, siap untuk melakukan semburan turun lainnya. Trader bisa melakukan aksi jual dari 1,3270 menargetkan 1,3200 dan 1,3150. Ke arah naik, para pembeli bisa masuk di 1,3330 menargetkan 1,3400.
Minyak Mentah WTI: Penutupan Selat Hormuz Menyalakan Ketakutan Pasokan, OPEC+ Menambahkan Kelegaan Moderat

Minyak bumi mendapatkan dukungan dari risiko disrupsi rantai pasokan di Timur Tengah di tengah konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Pihak Iran bersumpah untuk menyerang kapal mana pun yang mencoba untuk melewati selat ini. Antar pihak saling bertukar serangan misil, dan Presiden AS berjanji untuk mengintensifkan operasionalnya. OPEC+ siap meningkatkan produksinya di bulan April, namun jika Selat Hormuz diblokade, hal ini akan membuat sedikit perbedaan, sebagaimana banyak negara tidak akan bisa mengirimkan minyak bumi dari berbagai fasilitas.
Dari sudut pandang analisis teknikal, minyak bumi diperdagangkan dekat dengan pita atas indikator Bollinger Band dengan potensi bergerak bahkan semakin tinggi. Trader bisa aksi jual dari 77,70 menargetkan 79,00. Ke arah turun, trader bisa bertransaksi short dari 76,00 menargetkan 75,00.
Emas (XAU/USD): Permintaan Safe-Haven vs Kekuatan Dolar Menciptakan Tekanan Dua Arah

Grafik 1-jam XAU/USD
Emas memiliki dukungan ketika fase aktif konflik dimulai, namun belakangan bergerak turun sebagai koreksi. Bagaimanapun, keraguan The Fed, termasuk rumor bahwa bank sentral ini bahkan bisa meningkatkan suku bunga untuk sementara waktu demi melawan inflasi, bertindak sebagai terpaan angin terhadap aset ini.
Dari sisi analisis teknikal, emas diperdagangkan persis di bawah pita bagian bawah indikator Bollinger Band. Para penjual bisa beraksi jika harga menjebol ke bawah 5.140 menargetkan 5.100 dan 5.060. Ke arah naik, para pembeli bisa masuk trading jika harga melampaui 5.220 menargetkan 5.260 dan 5.300.
