Lapangan Kerja & Inflasi vs Badai Geopolitik: Dua Garda Depan Mengendalikan Pasar Minggu Ini

Pasar global mengalami guncangan ganda pekan ini seiring dengan telah dirilisnya pasar tenaga kerja AS, namun situasi di Timur Tengah masih sulit. Fokus minggu ini akan berada pada geopolitik dan data CPI AS, yang akan dirilis hari Jumat.
Situasi di sekitar Selat Hormuz masih kompleks. Selat ini diblokir, yang mendorong harga minyak bumi semakin tinggi. Selain itu, tidak ada tanda-tanda deeskalasi yang tampak jelas. Presiden AS mengumumkan negosiasi tentang gencatan senjata 45 hari di hari Senin, namun di hari Selasa, para pihak tidak ada kesepakatan.
Para partisipan pasar masih memiliki harapan sebagaimana selera risiko masih kuat. Di sisi lain, ketakutan eskalasi lebih lanjut dan tidak ada jaminan bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz bahkan jika negosiasi mendatangkan gencatan senjata, mendorong aset-aset berisiko turun.
Pada sisi AS, pasar tenaga kerja dan data inflasi sedang dalam fokus. Nonfarm Payroll menunjukkan 178.000 lapangan kerja ditambahkan, yang hampir tiga kali lipat dari ekspektasi. Sebagaimana dengan tingkat pengangguran, menurun ke 4,3%, yang turut menunjang Dolar AS. Sekarang fokusnya beralih ke data inflasi, yang akan dirilis hari Jumat. Para ekonom berekspektasi data inflasi YoY mencapai 3,4%, yang mana di atas target The Fed 2%. Ini merupakan skenario yang cenderung tidak mungkin untuk The Fed, dan bank sentral ini dapat mempertimbangkan setidaknya kenaikan sekali tingkat suku bunga bukannya pelonggaran kebijakan moneter tahun ini.
Contents
EUR/USD: Tekanan Geopolitik Menjaga Euro di Bawah Kendali

Pasangan mata uang ini masih berada di bawah tekanan di tengah-tengah instabilitas geopolitik di wilayah Timur Tengah. Negosiasi antara Gedung Putih dan Tehran gagal memberikan 45 hari gencatan senjata. Selain itu, Selat Hormuz masih ditutup, yang memberikan tekanan inflasi ke EUR. Pasangan mata uang ini masih belum bisa mendapatkan manfaat dari pendirian hawkish ECB karena kebutuhan aset safe-haven masih tinggi dan Dolar AS menjadi semakin kuat. The Fed tidak mempertimbangkan penurunan suku bunga apa pun tahun ini, yang akan memberikan tambahan dukungan ke mata uang AS ini.
Dari perspektif analisis teknikal, pasangan mata uang ini diperdagangkan di dalam indikator Bollinger Band, dengan pita-pitanya sedang dekat satu sama lain. Hal ini berarti volatilitasnya sedang rendah. Trader bisa bertransaksi beli dari 1,157 menargetkan 1,1600 dan 1,1650. Ke arah turun, trader bisa bertransaksi jual dari 1,1540, menargetkan 1,1500 dan 1,1450.
GBP/USD: Pound di Bawah Tekanan dari Inflasi dan Risiko Energi

Pasangan mata uang ini diperdagangkan di bawah tekanan di tengah-tengah perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, rilis PDB Inggris final menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomian hampir terhenti di Inggris. Bagaimanapun, peluang bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga rendah akibat inflasi yang meningkat. Bank sentral sedang dalam situasi sulit karena tidak bisa mendukung pertumbuhan perekonomian akibat tekanan inflasi yang meningkat. Selain itu, harga minyak bumi yang meningkat akan mendorong inflasi semakin tinggi lagi. Data inflasi AS akan menjadi fokus pekan ini.
Dari sisi analisis teknikal, pasangan mata uang ini diperdagangkan di atas garis tengah indikator Bollinger Band. Pita-pitanya sedang sempit memberikan sinyal volatilitas rendah. Para pembeli bisa memesan di atas 1,3270 menargetkan 1,3350 dan 1,3400. Para penjual bisa masuk dari 1,3230 menargetkan 1,3150 dan 1,3100.
Minyak Mentah WTI: Risiko Pasokan Menjaga Harga Tinggi

Harga minyak bumi masih didukung oleh konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Situasi di sekitar Selat Hormuz masih kompleks. International Energy Agency telah merilis beberapa cadangannya. Bagaimanapun, volume ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Negosiasi antara AS dan Iran gagal, yang berarti bahwa blokade tanker akan berlanjut.
Dari perspektif analisis teknikal, minyak bumi diperdagangkan sedikit di atas pita tengah indikator Bollinger Band, sementara pita-pitanya sempit, memberikan sinyal volatilitas yang rendah. Para pembeli bisa masuk dari 116,50 menargetkan 120,00. Para penjual bisa melangkah masuk dari 114,40, menargetkan 112,00.
Emas: Kebutuhan Safe-Haven Bertemu Dolar yang Kuat

Emas menyeimbangkan antara permintaan safe-haven dan permintaan Dolar AS yang kuat. The Fed cenderung menjaga suku bunga pada level sekarang atau bahkan melakukan kenaikan suku bunga tahun ini, yang akan memberikan dukungan lebih lanjut untuk mata uang Amerika ini. Ekspektasi data inflasi memberikan lebih banyak dukungan ke AS, dan fokus geopolitik juga menyukai Dolar.
Dari perspektif analisis teknikal, emas diperdagangkan dalam garis-garis Bollinger Band yang ketat, yang berarti volatilitasnya kecil. Para pembeli bisa menaruh order di atas 4.670, menargetkan 4.700 dan 4.720. Para penjual bisa melangkah masuk di bawah 4.630, menargetkan 4.600 dan 4.580.
